MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memanfaatkan momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebagai ruang refleksi atas arah kebangsaan di tengah tekanan zaman modern.
Melalui upacara penghormatan, doa bersama, dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Rabu (20/5/2026), pemerintah daerah berupaya menghidupkan kembali memori kolektif tentang nilai perjuangan dan persatuan yang menjadi fondasi bangsa.
Dengan mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, peringatan kali ini menekankan pentingnya menjaga generasi muda sebagai penentu masa depan Indonesia, di tengah derasnya arus digitalisasi dan dinamika global.
Prosesi yang berlangsung khidmat itu diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, dilanjutkan doa bersama, hingga tabur bunga di pusara tokoh-tokoh pejuang asal Sulawesi Selatan.
Tradisi ini menjadi simbol bahwa sejarah perjuangan tidak boleh terputus dari kesadaran generasi masa kini.
Namun lebih dari itu, peringatan Harkitnas juga menyimpan pesan strategis. Pemerintah menilai bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi berbentuk fisik seperti masa lalu, melainkan bergeser ke ranah ideologi, sosial, dan informasi.
Sekretaris Dinas Kominfo-SP Sulsel, Sultan Rakib, menegaskan bahwa semangat nasionalisme harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan konteks zaman.
“Semangat pengabdian dan nasionalisme tidak boleh luntur. ASN harus hadir sebagai pelayan publik yang adaptif dan tetap menjaga nilai persatuan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan ekspektasi pemerintah terhadap aparatur sipil negara sebagai garda depan dalam menjaga kohesi sosial di tengah perubahan cepat.
Di sisi lain, tema “tunas bangsa” menjadi penegasan bahwa penguatan karakter generasi muda kini menjadi prioritas strategis.
Pendidikan, keteladanan, dan partisipasi sosial dipandang sebagai instrumen utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan.
TMP Panaikang sendiri bukan sekadar lokasi seremonial, melainkan ruang simbolik yang menyimpan jejak sejarah perjuangan tokoh-tokoh besar Sulawesi Selatan seperti Robert Wolter Mongisidi, Andi Mappanyukki, Emmy Saelan, hingga Andi Pangerang Pettarani.
Dalam konteks ini, Harkitnas 2026 menjadi pengingat bahwa kebangkitan nasional bukan peristiwa masa lalu, melainkan proses berkelanjutan yang harus terus dirawat terutama di tengah tantangan baru yang lebih kompleks dan tidak kasat mata.
Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan, Pemprov Sulsel berharap semangat kebangkitan tidak berhenti pada seremoni, tetapi bertransformasi menjadi energi kolektif untuk menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa di era modern.




Komentar