Pemda Bulukumba

Jelang Idul Adha, Pemkab Bulukumba Klaim Harga Stabil—Minyak Goreng Jadi Alarm Inflasi

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Kamis, 21 Mei 2026 23:40

Jelang Idul Adha, Pemkab Bulukumba Klaim Harga Stabil—Minyak Goreng Jadi Alarm Inflasi

BULUKUMBA, TROTOAR.ID — Pemerintah Kabupaten Bulukumba bersama Forkopimda turun langsung ke pasar menjelang Idul Adha 2026, namun di balik klaim stabilitas harga, satu komoditas justru menjadi sinyal peringatan: minyak goreng.

Dipimpin Wakil Bupati Andi Edy Manaf, pemantauan di Pasar Tradisional Cekkeng memperlihatkan kondisi yang relatif terkendali untuk sebagian besar bahan pokok. Cabai, beras, telur, hingga ayam potong disebut masih dalam rentang harga yang terjangkau.

Namun, temuan di lapangan menunjukkan adanya tekanan pada pasokan minyak goreng komoditas sensitif yang kerap menjadi pemicu inflasi daerah.

“Secara umum harga stabil, tapi minyak goreng memang jadi perhatian karena stok terbatas,” ujar Edy Manaf.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa stabilitas harga yang disampaikan pemerintah masih bersifat parsial.

Dalam konteks pengendalian inflasi, gangguan pada satu komoditas strategis dapat dengan cepat memicu efek domino terhadap harga lainnya.

Sebelum turun ke pasar, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bulukumba menggelar rapat koordinasi dan menyimpulkan bahwa kondisi inflasi masih aman.

Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya potensi gangguan distribusi yang perlu diantisipasi lebih cepat.

Kunjungan ke Gerakan Pangan Murah (GPM) memperkuat sinyal tersebut. Antusiasme tinggi masyarakat terhadap minyak goreng di lapak Bulog justru menjadi indikator bahwa pasokan di pasar umum belum sepenuhnya stabil.

Dalam situasi ini, intervensi pemerintah menjadi krusial. Edy Manaf secara terbuka meminta Bulog segera menyalurkan stok ke pasar untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

“Stok harus segera didistribusikan ke pasar agar tidak terjadi kelangkaan,” tegasnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup hanya melalui pemantauan, tetapi membutuhkan aksi cepat dalam distribusi dan stabilisasi pasar.

Di sisi lain, kegiatan pemantauan yang disertai interaksi langsung dengan pedagang bahkan aksi simbolik memborong dagangan menjadi bagian dari pendekatan populis yang kerap dilakukan pemerintah daerah untuk menunjukkan kehadiran di tengah masyarakat.

Namun, tantangan sesungguhnya tetap pada konsistensi kebijakan. Menjaga harga tetap stabil menjelang hari besar keagamaan bukan hanya soal sidak pasar, tetapi memastikan rantai pasok berjalan tanpa gangguan.

Dengan Idul Adha semakin dekat, Pemkab Bulukumba kini dihadapkan pada ujian nyata: apakah stabilitas harga yang diklaim hari ini mampu bertahan hingga puncak kebutuhan masyarakat, atau justru kembali diuji oleh lonjakan permintaan dan distribusi yang tersendat.

Penulis : Addy

 Komentar

Berita Terbaru
Internasional21 Mei 2026 23:17
Diplomasi Senyap Berbuah Hasil: 9 WNI Ditahan Israel Dibebaskan, RI-Turki Perkuat Poros Kemanusiaan
JAKARTA, TROTOAR.ID — Upaya diplomasi Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan oleh tentar...
Parlemen21 Mei 2026 22:58
Reses Berulang, Keluhan Tak Berubah: Potret Mandeknya Layanan Dasar di Pinggiran Makassar
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, di Kecamatan Biringkanaya kembali memperlihatkan pola yang ber...
Metro21 Mei 2026 22:56
Distribusi Kurban dari Istana: 25 Sapi Presiden Mengalir ke Sulsel, Simbol Kepedulian atau Politik Kedekatan?
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Bantuan 25 ekor sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto ke Sulawesi Selatan bukan sekadar agenda rutin jelang Idul Adha. D...
Parlemen21 Mei 2026 22:53
Reses Odhika Diserbu Keluhan: Jalan Rusak hingga KIS Bermasalah, Janji Ditagih Warga
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, kembali menjadi ruang “pengadilan publik” bagi kinerja pem...