DPRD Makassar

Reses Berulang, Keluhan Tak Berubah: Potret Mandeknya Layanan Dasar di Pinggiran Makassar

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Kamis, 21 Mei 2026 22:58

Reses Berulang, Keluhan Tak Berubah: Potret Mandeknya Layanan Dasar di Pinggiran Makassar

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, di Kecamatan Biringkanaya kembali memperlihatkan pola yang berulang: aspirasi warga yang stagnan, dan persoalan dasar yang tak kunjung tuntas.

Di dua titik kunjungan Kelurahan Berua dan Sudiang warga menyuarakan keluhan yang nyaris identik dengan reses-reses sebelumnya.

Jalan rusak, layanan kesehatan yang belum merata, hingga minimnya fasilitas olahraga menjadi daftar masalah yang terus berulang tanpa penyelesaian menyeluruh.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa problem utama bukan lagi pada penyerapan aspirasi, melainkan pada efektivitas tindak lanjut kebijakan.

Odhika sendiri mengakui bahwa persoalan infrastruktur jalan menjadi keluhan paling dominan.

Bahkan, ia menyebut ada beberapa ruas di Berua yang kondisinya cukup memprihatinkan dan perlu segera diperbaiki.

Namun di sisi lain, berulangnya keluhan yang sama justru menegaskan adanya persoalan struktural dalam perencanaan dan eksekusi pembangunan di tingkat kota.

Jalan lingkungan yang rusak bukan sekadar isu teknis, melainkan indikator lemahnya prioritas anggaran dan distribusi pembangunan yang belum merata.

Di sektor kesehatan, masalah pendataan ulang desil untuk akses Kartu Indonesia Sehat (KIS) juga kembali mencuat.

Ini menunjukkan bahwa sistem perlindungan sosial masih menghadapi persoalan klasik: data yang tidak akurat dan lambat diperbarui.

Padahal, bagi masyarakat berpenghasilan rendah, keterlambatan akses KIS bukan sekadar administratif, tetapi berdampak langsung pada kemampuan mereka mendapatkan layanan kesehatan.

Sebagai anggota Komisi D yang membidangi kesejahteraan rakyat, posisi Odhika menjadi strategis namun sekaligus diuji.

Ia tidak hanya dituntut menyerap aspirasi, tetapi memastikan adanya tekanan politik agar dinas terkait benar-benar bergerak.

Di sisi lain, munculnya aspirasi terkait sarana olahraga menunjukkan bahwa kebutuhan warga mulai bergerak dari sekadar bertahan hidup menuju kualitas hidup.

Namun, minimnya fasilitas publik mengindikasikan bahwa ruang-ruang sosial di wilayah pinggiran belum menjadi prioritas pembangunan kota.

Reses ini pada akhirnya memperlihatkan dua wajah: di satu sisi menjadi kanal demokrasi yang hidup, namun di sisi lain menjadi cermin berulangnya persoalan yang sama.

Pertanyaannya kini bukan lagi apa yang dikeluhkan warga karena itu sudah jelas dan berulang melainkan sejauh mana komitmen politik dan kapasitas birokrasi mampu mengubah aspirasi menjadi realisasi.

Tanpa itu, reses berisiko hanya menjadi rutinitas formal, sementara warga tetap berkutat pada masalah yang sama dari tahun ke tahun.

Penulis : Upiq

 Komentar

Berita Terbaru
Daerah21 Mei 2026 23:40
Jelang Idul Adha, Pemkab Bulukumba Klaim Harga Stabil—Minyak Goreng Jadi Alarm Inflasi
BULUKUMBA, TROTOAR.ID — Pemerintah Kabupaten Bulukumba bersama Forkopimda turun langsung ke pasar menjelang Idul Adha 2026, namun di balik klaim sta...
Internasional21 Mei 2026 23:17
Diplomasi Senyap Berbuah Hasil: 9 WNI Ditahan Israel Dibebaskan, RI-Turki Perkuat Poros Kemanusiaan
JAKARTA, TROTOAR.ID — Upaya diplomasi Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan oleh tentar...
Metro21 Mei 2026 22:56
Distribusi Kurban dari Istana: 25 Sapi Presiden Mengalir ke Sulsel, Simbol Kepedulian atau Politik Kedekatan?
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Bantuan 25 ekor sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto ke Sulawesi Selatan bukan sekadar agenda rutin jelang Idul Adha. D...
Parlemen21 Mei 2026 22:53
Reses Odhika Diserbu Keluhan: Jalan Rusak hingga KIS Bermasalah, Janji Ditagih Warga
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, kembali menjadi ruang “pengadilan publik” bagi kinerja pem...