Pemda Luwu

Pemkab Luwu Tak Menunggu Kekeringan Meluas, Pompa Air hingga Deep Well Disiapkan

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Kamis, 13 Agustus 2026 16:53

Pemkab Luwu Tak Menunggu Kekeringan Meluas, Pompa Air hingga Deep Well Disiapkan

LUWU, Trotoar.id — Kekeringan mulai mengancam sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu. Di tengah potensi kemarau berkepanjangan dan cuaca ekstrem, Pemerintah Kabupaten Luwu memilih memperkuat kesiapsiagaan sebelum persoalan air berkembang menjadi ancaman serius bagi pertanian dan kebutuhan dasar masyarakat.

Ancaman itu menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Kekeringan dan Dampak Cuaca Ekstrem yang digelar di Lounge Kantor Bupati Luwu, Rabu (12/8/2026).

Rakor tersebut menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menyatukan langkah sekaligus memastikan penanganan di lapangan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Bupati Luwu memimpin langsung pertemuan yang dihadiri Sekretaris Daerah, unsur Forkopimda, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat hingga kepala desa.

Mereka membahas langkah cepat menghadapi dampak kekeringan, khususnya ancaman terhadap lahan pertanian dan pasokan air bersih masyarakat.

Persoalan ini menjadi penting karena Luwu memiliki basis pertanian yang cukup besar. Dinas Pertanian Luwu mencatat sekitar 34.000 hektare lahan baku sawah tersebar di wilayah tersebut.

Dari luasan itu, sekitar 22.000 hektare merupakan kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B.

Angka tersebut membuat persoalan air tidak bisa dipandang sederhana. Ketika debit air menurun dan hujan tidak kunjung turun, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan satu musim tanam, tetapi juga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Sejumlah wilayah bahkan mulai merasakan dampak kekeringan. Karena itu, pemerintah daerah mendorong intervensi teknis sedini mungkin agar lahan yang terdampak tidak semakin luas dan petani tidak harus menanggung kerugian akibat kekurangan pasokan air.

Bupati Luwu pun mengingatkan jajarannya agar tidak terjebak pada rutinitas rapat dan laporan. Menurutnya, kondisi kekeringan harus dibaca langsung dari lapangan.

Data yang dibutuhkan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan informasi konkret mengenai wilayah terdampak dan sarana yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah data kebutuhan yang konkret. Berapa pompa yang tersedia, berapa yang masih dibutuhkan, dan titik mana yang harus segera ditangani,” tegas Bupati.

Instruksi tersebut sekaligus menjadi penekanan agar seluruh OPD segera bergerak. Pemerintah ingin mengetahui secara detail lokasi yang membutuhkan pompa, sumber air yang masih dapat dimanfaatkan, serta kebutuhan sarana pendukung lainnya.

Bagi pemerintah daerah, kecepatan menjadi kunci. Penanganan kekeringan tidak bisa menunggu sampai tanaman mengalami kerusakan atau masyarakat kesulitan mendapatkan air. Setiap titik yang berpotensi terdampak harus dipetakan dan ditangani berdasarkan skala prioritas.

Karena itu, pompa air menjadi salah satu solusi yang disiapkan. Selain pompa, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan sumur bor dan deep well sebagai sumber air alternatif yang dapat memberikan manfaat lebih panjang.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk menghadapi kekeringan yang berlangsung cukup lama dibandingkan hanya mengandalkan distribusi air menggunakan armada tangki.

Tangki tetap dapat digunakan untuk kondisi darurat, tetapi infrastruktur sumber air menjadi solusi yang lebih berkelanjutan.

Strategi itu penting terutama bagi kawasan pertanian. Dengan dukungan pompa dan sumber air alternatif, lahan yang mengalami kekurangan pasokan air diharapkan tetap dapat dipertahankan produktivitasnya.

Pemerintah pun ingin memastikan ancaman kekeringan tidak serta-merta berubah menjadi ancaman terhadap produksi pangan.

Namun, persoalan kekeringan tidak hanya menyentuh sawah. Kebutuhan air bersih masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah menyiapkan langkah antisipasi agar warga di wilayah terdampak tetap memperoleh akses air untuk kebutuhan sehari-hari.

Untuk mempercepat penanganan, koordinasi lintas sektor diperkuat. OPD teknis diminta membangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah pusat. BPBD, TNI, Polri serta pemerintah desa juga didorong mengambil peran sesuai kewenangan masing-masing.

Keterlibatan pemerintah desa menjadi penting karena merekalah yang berada paling dekat dengan masyarakat. Informasi mengenai kondisi sumber air, lahan yang terdampak dan kebutuhan warga dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menentukan intervensi secara lebih cepat dan tepat.

Rakor tersebut pada akhirnya tidak hanya membicarakan bagaimana menghadapi kemarau hari ini. Pemkab Luwu juga sedang membangun pola penanganan yang lebih siap menghadapi kekeringan di masa mendatang.

Pompa air, sumur bor dan deep well diposisikan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan daerah terhadap perubahan kondisi cuaca.

Sementara koordinasi lintas sektor menjadi instrumen untuk memastikan ketika masalah muncul, respons pemerintah tidak lagi dimulai dari nol.

Di tengah ancaman kemarau berkepanjangan, pemerintah dituntut bergerak lebih cepat daripada dampak kekeringan itu sendiri.

Sebab bagi petani, keterlambatan pasokan air bisa berarti kehilangan satu musim tanam. Bagi masyarakat, kekurangan air berarti terganggunya kebutuhan paling mendasar.

Karena itu, Pemkab Luwu menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap langkah penanganan berbasis data, bergerak langsung ke lapangan dan menyasar wilayah yang paling membutuhkan.

Target akhirnya jelas menjaga lahan pertanian tetap produktif, mempertahankan ketahanan pangan, dan memastikan masyarakat tidak kehilangan akses terhadap air bersih selama periode kemarau.

Penulis : Any

 Komentar

Berita Terbaru
Nasional13 Agustus 2026 16:49
Bulog Ungkap Stok Jagung Sulselbar 52.565 Ton, Harga SPHP untuk Peternak Rp5.500 per Kg
MAKASSAR, Trotoar.id — Persoalan mahalnya biaya pakan kembali menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sulawesi Selatan bersa...
Metro13 Agustus 2026 16:31
Pemakzulan Bupati Gowa: Mulus ke Mahkamah Agung atau Mental di Meja Hukim?
GOWA, Trotoar.id — Tujuh fraksi di DPRD Kabupaten Gowa telah mengunci sikap politiknya. Hak menyatakan pendapat disepakati, dengan agenda paling kon...
Parlemen13 Agustus 2026 14:22
Harga Telur Anjlok, Komisi B DPRD Sulsel Bongkar Beban Peternak dari Hulu ke Hilir
MAKASSAR, Trotoar.id — Harga telur ayam ras di Sulawesi Selatan kembali menjadi persoalan serius bagi peternak.  Di satu sisi harga jual telur di t...
Politik13 Agustus 2026 00:15
Membaca Pemilu 2029 Sejak Dini, Bawaslu Dorong Masyarakat Jadi Mata dan Telinga Pengawasan
BARRU, Trotoar.id — Pemilu 2029 masih beberapa tahun di depan, tetapi Bawaslu mulai mendorong masyarakat menyiapkan diri sejak sekarang. Evaluasi te...