Pemkot Makassar

Tak Lagi Makan Sampah Plastik: Ratusan Sapi di TPA Tamangapa Kini Diberi Pakan Organik 31 Ton per Hari

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 18 September 2026 15:33

Tak Lagi Makan Sampah Plastik: Ratusan Sapi di TPA Tamangapa Kini Diberi Pakan Organik 31 Ton per Hari

Makassar, Trotoar.id — Pembenahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, Kecamatan Manggala, kini memasuki babak baru.

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar tidak hanya berfokus pada penataan limbah, tetapi juga mulai menertibkan ratusan ternak sapi yang selama ini dilepasliarkan di tumpukan sampah.

Langkah konkret ditunjukkan dengan merelokasi sapi-sapi tersebut ke area penangkaran sementara (ranch) khusus di kawasan TPA.

Kebijakan ini diterapkan demi menghentikan kebiasaan ternak mengonsumsi sampah campuran yang beracun dan membahayakan kesehatan hewan maupun kualitas dagingnya.

Menariknya, skema penangkaran ini dipadukan langsung dengan pemanfaatan limbah pasar. Sapi-sapi di TPA Tamangapa kini resmi dipasok pakan higienis dari hasil pemilahan sampah organik.

Direktur Utama Perumda Pasar Makassar Raya, Ali Gauli Arief, menegaskan keterlibatan instansinya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar dalam menyuplai bahan pakan berkualitas untuk peternakan ini.

“Ada kandang khusus untuk sapi di TPA, dan pakannya dipasok langsung dari sampah organik pasar yang sudah dipilah,” ujar Ali, Jumat (18/9/2026).

Pasokan sampah organik tersebut bersumber dari 14 pasar tradisional di bawah naungan Perumda Pasar Makassar Raya. Integrasi sistem ini membuat pengelolaan limbah pasar menjadi jauh lebih efisien.

Lompatan volume pengiriman sampah organik pun terjadi sangat signifikan. Jika sebelumnya Perumda Pasar hanya mampu mengirim 3 hingga 4 ton per hari, kini angkanya melonjak drastis hingga menyentuh 31 ton per hari berkat sinergi erat bersama pihak kecamatan.

Lonjakan pasokan pakan organik ini dinilai sangat ideal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian populasi sapi di TPA. Dengan rerata konsumsi per ekor mencapai 20 kilogram per hari, total kebutuhan pakan sekitar 30 ton per hari kini dapat terpenuhi sepenuhnya.

“Satu sapi mengonsumsi paling banyak 20 kilogram. Alhamdulillah, dengan suplai saat ini seluruh kebutuhan pakan ternak sudah ter-cover,” jelas Ali.

Ali menekankan bahwa limbah yang digunakan murni sampah organik terpilih, bukan sampah campuran. Menurutnya, pemilahan yang disiplin wajib diikuti dengan langkah pengolahan agar sampah tidak lagi menumpuk dan menjadi beban persampahan kota.

Capaian pemilahan sampah organik di lingkungan pasar tradisional bahkan telah menembus angka 100 persen, melampaui target minimal yang ditetapkan oleh DLH Kota Makassar.

Jika dulunya sampah organik dialokasikan untuk biopori, lubang teba, atau komposter, kini alur utamanya dialihkan penuh untuk mendukung ekosistem peternakan di TPA Tamangapa.

“Sekarang kami hampir tidak lagi membuang sampah ke komposter atau teba. Seluruh sampah organik pasar langsung dibawa ke penangkaran sapi TPA,” tegasnya.

Kelancaran distribusi pakan ini didukung oleh armada pengangkut mandiri milik Perumda Pasar yang disiagakan berkat kolaborasi bersama DLH dan Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar.

Penataan komprehensif ini sukses menciptakan pemisahan zona yang jelas antara area peternakan higienis dan area pengelolaan sampah residu, sehingga sapi tidak lagi mengganggu operasional pemrosesan akhir.

“Konsep ini menjadi bagian dari transformasi Pemkot Makassar dalam mengubah wajah TPA Tamangapa—beralih ke sistem pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Awal

 Komentar