MAKASSAR, Trotoar.id — Membangun pendidikan berkualitas sejak usia dini membutuhkan pendekatan yang tepat.
Anak tidak boleh dibebani tuntutan akademik secara instan, tetapi harus didampingi melalui proses belajar yang menyenangkan, ramah anak, dan sesuai tahapan tumbuh kembangnya.
Komitmen tersebut diperkuat Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan melalui kegiatan peningkatan kapasitas guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai kabupaten dan kota.
Kegiatan yang dipusatkan di Gedung PKK Provinsi Sulawesi Selatan itu ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk mengawal Gerakan Transisi PAUD ke Sekolah Dasar (SD) yang menyenangkan, ramah anak, dan berkelanjutan.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Bunda PAUD sebagai penggerak di daerah, sekaligus mendorong para pendidik mengubah pendekatan pembelajaran yang selama ini terlalu menitikberatkan pada kemampuan akademik.
Salah satu pesan penting dalam gerakan tersebut adalah memastikan anak tidak dipaksa menguasai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) secara instan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar.
Sebaliknya, satuan pendidikan perlu menyiapkan lingkungan belajar yang mampu mendukung perkembangan anak secara utuh.
Dalam arahannya saat menutup kegiatan, Bunda PAUD Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi mendatang.
“Ingat, apa yang kita tanam hari ini akan menjadi masa depan bangsa ke depannya. Jadi, mari kita wujudkan PAUD berkualitas dan transisi PAUD yang menyenangkan demi terwujudnya Generasi Emas Indonesia pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak cuma berbicara tentang tahun 2045 saja, tetapi juga tahun-tahun selanjutnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan gerakan transisi PAUD ke SD tidak dapat dibebankan hanya kepada guru. Diperlukan sinergi tiga unsur utama, yakni Bunda PAUD sebagai penggerak, guru sebagai pendidik dan pendamping di satuan pendidikan, serta orang tua sebagai mitra utama dalam mendampingi anak di lingkungan keluarga.
“Bunda PAUD adalah penggerak, guru TK adalah pendamping dan pendidik, sedangkan orang tua adalah mitra utama. Ketiganya harus bersinergi agar setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan sejak usia dini hingga masuk SD dan jenjang pendidikan selanjutnya,” tambahnya.
Melalui kegiatan peningkatan kapasitas tersebut, para pendidik juga dibekali pemahaman dan langkah aplikatif untuk membangun enam kemampuan fondasi anak sebelum memasuki pendidikan dasar.
Keenam kemampuan itu meliputi penanaman nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, kematangan kognitif, keterampilan motorik dan kemandirian merawat diri, serta sikap positif terhadap proses belajar.
Aspek kematangan emosi juga menjadi perhatian, termasuk pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan mencegah praktik perundungan sejak dini.
Penguatan enam kemampuan fondasi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi anak agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah dasar tanpa kehilangan kegembiraan dalam belajar.
Melalui kolaborasi Pokja Bunda PAUD dan Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, para pendidik di kabupaten dan kota diharapkan dapat menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan anak.
Pada akhirnya, keberhasilan transisi PAUD ke SD bukan diukur dari seberapa cepat anak menguasai calistung, melainkan dari kesiapan mereka secara menyeluruh untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya dengan rasa aman, percaya diri, dan bahagia. (*)




Komentar