TROTOAR.ID, MAKASSAR –– Rekapitulasi suara hasil pemilu 17 April lalu masih berproses di tingkat kecamatan, namun meski demikian sudah dapat dipastikan jikannsejumalh calon legislatif yang memiliki hubungan dekat dengan kepala daerahbikutvteraulingkir dalam kompetisi lima tahunan tersebut
Bahkan Istri dan anak dari Wali Kota Makassar Mohamamd Ramdhan Danny Pomanto, Indira Jusuf Ismail (Istri) dan Aura Aulia Amandara (Anak) merupakan caleg DPR dari Partai Perindo dan NasDem yang harus menahan ambisinya terpilih sebagai legislator.
Dan buakan cuma istri Wali Kota Makassar yang tidak lolos, Istri dari Bupati Jeneponto,
Hamsyiah Iksan (NasDem), istri Walikota Parepare Erna Rasyid Taufan (Golkar), Istri Bupati Wajo Sitti Maryam (NasDem) dan Mantan Gubernur SulselbSyahrul Yadin Limpo (NasDem) juga ikut tersingkir.
Baca Juga :
Menanggapi fenomena banyaknya keluarga pejabat dan istri serta anaknya yang gugur dalam kompetisi pileg tahun ini, membuktikan jika peran sang suami sebagai kepala daerah tidak begitu berpengaruh dalam mendorong tingkat keterpilihan sang keluarga yang ikut mencalonkan diri.
“Ini fenomena baru dalam kontestasi politik kali ini, keberadaan suami sebagai kepala daerah tidak mampu memberikan dukungan positif terhadap keikut sertaan keluarga kepala daerah dalam pemiku kali ini,” UngkapnFirdaus Muhammad
Olehnya itu posisi suami atau keluarga yang menjabat sebagai kepala daerah dalam proses pemilu bukan sebagai jaminan keterpilihan seseorang dipileg, sebab pengaruh kekuatan politikbyang dimiliki kepala daerah, baik ketokohan, popularitas hingga jaringan politiknya belum dapat bersaing dengan jaringan politisi lain.
Dan juga apa bila kekuatan birokrasi yang ikut dimainkan jelas merupakan pelanggaran, dimana meski suami menjadi kepala daerah tentu langkahnya penuh dengan kehati-hatian.
Diketahui gugurnya sejumlah keluarga kepala daerah dipileg, merupakan tidak mampu buat perolehan suara pribadindari caleg tersebut bersaing dengan caleg lainnya.
Namun diketahui tidaknlolosnya Istri Wali Kota Makassar Indira Jusuf Ismail, bukan karena perolehan suaranya ngga minum, namun halnitu dikarenakan partai Perindo tidak mampu lolos dari ambang batas 4 persen yang mengharuskan ketua PKK kota makassar ikut terdepak dalam proses pemilihan legislatif.



Komentar