Tandem Dindo, Prof Jufri Populerkan Museum Sebagai Wisata Edukasi

Suriadi
Suriadi

Rabu, 03 November 2021 01:10

Saat rombongan Disbudpar Sulsel mengelilingi Benteng Fort Rotterdam, Selasa (2/11).
Saat rombongan Disbudpar Sulsel mengelilingi Benteng Fort Rotterdam, Selasa (2/11).

MAKASSAR – Siang yang cerah hingga menjelang petang, Muhammad Jufri bersama Kemal Redindo Syahrul Putra menjelajahi Benteng Fort Rotterdam. Sebuah kawasan berupa bangunan sejarah nasional yang di dalamnya terdapat beberapa gedung dan benda-benda bersejarah masa lalu.

Hampir tiap sudut benteng didatangi, dilihat, dan dijelajahi. Sesekali berhenti, menyimak penjelasan staf UPT (Unit Pelaksana Teknis) Museum dan Taman Budaya.

Lanjut lagi memasuki bagian dalam bangunan yang dulunya digunakan kolonial Belanda sebagai benteng pertahanan. Salah satunya Museum La Galigo yang terletak di sisi Utara dan Selatan.

Di sisi Selatan berjejer bukti peradaban masa lalu mulai zaman paleolitik neolitik, paleometalik, mesolitik, megalitik, perundagian hingga zaman kolonial, sebagian ditempatkan dalam showcase berbahan kaca. Sedangkan di sisi Utara dapat disaksikan sejumlah pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia termasuk pakaian khas Makassar, Bugis, dan Toraja.

Di Museum ini pula berlangsung Pameran Temporer Dalam Daerah Wawasan Nusantara sejak tanggal 1 hingga 6 November mendatang. Mengusung tema “Bersama Kita Lestarikan Budaya, untuk Indonesia Maju, Indonesia Bangkit”, pameran  secara virtual itu cukup menarik perhatian masyarakat.

Seperti disampaikan Nur Fardiansyah Bur, Host virtual via Zoom Cloud Meeting yang juga disiarkan melalui YouTube Channel. Tatkala mencegat Muhammad Jufri selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kemal Redindo Syahrul Putra selaku Sekretaris Disbudpar Sulsel.

“Kunjungan melalui acara virtual ini pak lebih banyak dari kalangan siswa dan mahasiswa,” kata Fardiansyah kepada Jufri, Selasa (02/11/21).

Untuk diketahui bersama, Museum La Galigo dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam itu berada di Jalan Ujung Pandang Nomor 1, Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Jika dilihat dari udara, benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dulunya bernama Benteng Jum Pandang atau Benteng Ujung Pandang itu menyerupai penyu, menurut catatan dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. (Wikipedia)

Jufri yang ditanya Host dalam sesi LIVE virtual berharap agar pelaksanaan pameran baik daring maupun luring pasca Pandemi COVID-19 kelak, dapat lebih ditingkatkan promosinya ataupun sosialisasinya. Pada prakteknya mampu memberikan informasi lebih awal akan adanya pameran serta seperti apa metodenya, konsep acaranya dan bagaimana caranya bergabung atau berkunjung.

“Promosinya, sosialisasinya diperluas lagi, lebih lama lagi waktu promosinya, apalagi kita punya Duta Museum, bisa membantu menyebarluaskan informasi ini. Kalau ini dilakukan, mungkin akan lebih banyak yang akan menyaksikan,” pinta Jufri yang bergelar Profesor.

Selama kegiatan, pengunjung diberikan kuesioner agar didapatkan masukan, saran, dan mungkin kritikan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

“Supaya lebih banyak menyentuh anak-anak  kita di semua jenjang pendidikan. Ke depan dapat kita buat hal lebih maju lagi, kita tidak boleh diam, pasif, hanya mengandalkan pengunjung datang,” imbuhnya.

Pasalnya, kunjungan fisik masih dibatasi dan virtual saat ini sudah menjadi tren yang lebih cocok untuk secara optimal mematuhi penerapan protokol kesehatan tanpa kerumunan yang berarti. Anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua mesti mengetahui lebih dalam, kemudian memahami dan mewujudkan benda-benda yang tersimpan di museum sebagai pedoman melangkah ke masa depan.

Proyeksi keberhasilan era modern tidak terlepas dari pesatnya kemajuan peradaban masa lalu. Jufri mencontohkan, teknik dan peralatan bercocok tanam saja, jutaan tahun silam sudah sedemikian hebatnya dan berhasil diadopsi dengan teknologi canggih.

Dia menyebutkan, jelajah Benteng Fort Rotterdam yang dilakukannya di sela-sela kesibukannya bukan tanpa alasan. Selain ingin mengetahui seluk-beluk satu dari 17 benteng yang dibangun Kerajaan Gowa serta dibangun ulang oleh Speelman itu. Museum harus lebih digaungkan dan diperkenalkan untuk sebagai salah satu destinasi wisata berbalut edukasi.

“Mereka (generasi muda pada khususnya) tidak boleh dijauhkan dari memahami apa yang menjadi nilai-nilai luhur, nilai-nilai warisan yang disimpankan kepada kita. Harus dikenali dan diinternalisasi menjadi bagian karakter kita sebagai orang Makassar, Bugis, Toraja, Mandar dari apa yang ditampilkan di pameran ini dan museum ini sendiri,” tegas Prof Jufri.

Dua hari sebelumnya, Jufri bahkan menantang UPT Museum dan Taman Budaya untuk melakukan pendekatan digital terhadap museum. Bahwa pengunjung bisa saja tidak datang secara fisik, walaupun offline atau luring, informasi museum sudah tersaji dalam bentuk yang disukai milenial yakni aplikasi seluler berbasis Android atau iOS. (*)

Penulis : Al/Az

 Komentar

Berita Terbaru
Metro18 April 2026 15:19
Nama Aliyah Mustika Ilham Dicatut, Modus Penipuan Berkedok Sumbangan Masjid Marak
MAKASSAR, Trotoar.id – Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penipuan baru yang mencatut na...
Metro18 April 2026 13:17
30 Tahun Kuasai Fasum, 40 PKL “Cat Kuning” di Jalan Tinumbu Bongkar Mandiri Tanpa Konflik
MAKASSAR, Trotoar.id – Setelah puluhan tahun menempati fasilitas umum, sekitar 40 pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Ujung Tinumbu, Kecamatan Bontoal...
Politik18 April 2026 11:32
Musda Golkar Haed To Haed, APPI Kumpul 21 DPD II
MAKASSAR, Trotoar.id – Peta kekuatan jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan kian mengerucut. Dukungan terhadap Munafri Arif...
Hukum18 April 2026 10:56
Andi Ina Bantah Terlibat Dalam Kasus Bibit Nanas
MAKASSAR, Trotoar.id – Mantan Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Andi Ina Kartika Sari, dengan tegas membantah keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi ...