Andi Ina dan Prospek Politisi Perempuan di Sulsel

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 26 November 2021 18:48

Ketua Karang Taruna Sulsel Andi Ina Kartika Sari memperingati kelahiran Karang Taruna, di Kantor Dinas Sosial Sulsel, Sabtu (25/9).
Ketua Karang Taruna Sulsel Andi Ina Kartika Sari memperingati kelahiran Karang Taruna, di Kantor Dinas Sosial Sulsel, Sabtu (25/9).

Oleh Mulawarman
Jurnalis Senior dan Alumni Unhas

Trotoar. Id, Makassar — Ketua DPRD Sulsel Andi Ina sepanjang pekan ini menjadi buah bibir. Informasinya viral di WAG kalau kedudukannya sebagai Ketua Karang Taruna Sulsel periode 2021-2026, “dikudeta” oleh Hermansyah.

Berbagai polemik muncul ke permukaan. Mulai dari siapa aktor di belakang kudeta, pertarungan kepentingan politik di internal Golkar, hingga prospek politisi perempuan di Sulsel. Sejumlah aktivis dan politisi senior pun ikut berkomentar.

Polemik semacam ini bagus sebagai dinamika politik dan demokrasi. Namun yang buruk adalah perilaku politisi yang mengambil jalan pintas, merampas jabatan orang lain dengan cara-cara yang tidak bermartabat, tidak prosedural yang seharusnya dilakukan oleh seorang petarung sejati yang berlaga di arena.

Seseorang yang mengambil jabatan orang lain secara diam-diam dengan menyalahi prosedur dapat disebut pencuri. Sejatinya, demokrasi substantif adalah tujuan utama yang ingin dicapai oleh aktor-aktor politik yang memegang teguh prinsip dan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Bukankah budaya kita di Sulsel mengenal nilai siri, pesse, lempu dan ada tongeng yang menjadi pilar martabat manusia yang mulia?

Saya ingin menyoroti kasus Andi Ina dalam konteks prospek pengarusutamaan politik perempuan di Sulsel khususnya dan politik demokrasi secara keseluruhan. Pengarusutamaan politik perempuan berarti pengarusutamaan ide dan kiprah perempuan di dunia politik.

Bukan Sekadar Karang Taruna

Terlalu remeh kalau harus menanggapi laku politik yang tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi. Karena seperti menjadi pemakluman bahwa di sistem demokrasi sering kali menyisakan residu, antara lain dengan munculnya aktor-aktor yang selalu mencoba mencari celah dan jalan pintas demi kepentingannya.

Pasalnya, para aktor ini seringkali berlindung di balik titik lemah AD/ART organisasi, kebebasan berorganisasi, dan berpendapat serta berekspresi yang dijamin dalam sistem demokrasi. Meski dalam praktiknya perilaku mereka kadang merusak atau mengganggu kebebasan orang lain dan merusak demokrasi.

Karena fenomena residu demokrasi itu kerap terjadi, maka saya tidak terlalu anggap penting. Yang namanya residu, dia tidak akan bertahan lama, akan terhempas sendiri oleh angin yang menerpa.

Karena yang paling penting bagi saya adalah implikasi dan prospek politiknya di masa mendatang, bila kita membiarkan praktik perusak demokrasi itu terjadi. Lebih lagi dalam relasinya dengan konteks affirmasi representasi politik perempuan 30% secara nasional yang merupakan amanat UU.

Andi Ina adalah politisi perempuan yang berasal dari Golkar dan menjadi Perempuan pertama sebagai ketua DPRD Sulsel. Dia boleh jadi sebagai representasi kaum perempuan Sulsel yang berada di pucuk tertinggi di dalam jabatan politik.

Bila masih ada kesan pada sebagian kelompok bahwa kaum hawa tidak mampu, dan hanya menjadi “warga kelas dua” dalam lini apapun, maka Andi Ina mampu mendobrak anggapan itu. Dengan prestasi dan apresiasi yang telah diperolehnya selama ini di politik maupun organisasi, ia mampu menunjukkan dirinya: berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Mainstreaming politik

Perempuan memang bukan hanya menjadi tantangan masyarakat kita di Sulsel, bahkan hingga ke level nasional. Masih sedikit perempuan yang tertarik dan minat di politik. Anggapan bahwa politik: wahana yang keras pertarungan, penuh dengan intrik, kerap menjadi keengganan kaum hawa bergabung.

Kalau pun ada, perempuan seringkali hanya dijadikan “instrumen” oleh kelompok tertentu, seperti diposisi sebagai vote getter, penarik suara. Bahkan yang ironi dijadikan siasat hanya untuk memenuhi syarat administratif 30% saja. Kaum hawa jarang berada di posisi kunci dan strategis, baik di partai maupun di organisasi pemerintahan.

Di level nasional, publik nasional mengenal sejumlah politisi perempuan senior asal Sulsel antara lain: Marwah Daud Ibrahim, Mubha Kahar Muang, Oelfa Syahrullah dan Ulla Nuchrawaty. Namanya tercatat baik di panggung politik nasional yang berkomitmen memajukan ide-ide pembaharuan dan pemberdayaan politik kaum perempuan.

Yang menarik para tokoh politisi perempuan-perempuan asal Sulsel ini bukan muncul begitu saja. Mereka telah lebih jauh dikader, disiapkan, dan diberi jalan, sehingga mereka mampu berkompetisi hingga panggung nasional. Sosok yang paling berjasa adalah Prof Amiruddin, Rektor Unhas yang sejak awal menyadari pentingnya perempuan berkiprah di politik dan organisasi.

Ia menemukan Kak Marwah di Fakultas Sospol, Kak Mubha di Fakultas Ekonomi, Kak Ulla di Fakultas Kedokteran dan Kak Oelfa di Sastra, kemudian disiapkan, didorong, dibantu dan didukung bahkan memaksa ke 4 mahasiswi itu untuk pemilihan Ketua Senat Mahasiswa di fakultasnya masing-masing.

Hasilnya, hanya Oelfah Syahrullah yang berhasil terpilih, dan menjadi mahasiswi pertama sekaligus terakhir menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas sampai di saman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sekarang ini.

Marwah Daud, Mubha Kahar Muang, dan Ullah yang tidak terpilih, kemudain dipaksa masuk aktif di Dewan Mahasiswa (Dema) Unhas. Husni Tanra Ketua Dema Unhas bersama atas dorongan Prof Amir, Marwah Daud membidani lahirnya koran kampus Identitas, sementara Mubha Kahar Muang ketiga kalinya kembali dipaksa oleh Prof Amir menjadi ikut pemilihan Kepala Staf Resimen Mahasiswa (KASMENWA), Mubha berhasil terpilih dan menjadi KASMENWA. Mubha Kahar Muang satu-satunya KASMENWA di Indonesia yang wanita.

Dalam konteks politik saat ini, sejumlah elit dan senior politisi Sulsel telah menyadari mengenai keberadaan politik kaum hawa ini. Partai-partai politik di Sulsel masih sangat kekurangan kader/politisi perempuan.

Tidak pernah mencapai 30% untuk caleg perempuannya. Bahkan ada Partai di Pileg 2019 lalu yang hanya untuk memenuhi syarat administratif 30%, terpaksa mendaftarkan Asisten Rumah tangannya sebagai Caleg perempuan.

Untuk itulah, para senior itu mengingatkan perjuangan sejumlah senior politisi perempuan di sepqnjang tahun 1980, seperti Andi Cha, Ibu Prof Kustiah Kristanto, Prof Halima Dg Sikati bersama Istri Prof Amiruddin, Istri Prof Basri Hasanuddin, Istri Prof Fachruddin, Marwah Daud, Mubha Kahar Muang, Ullah, Oelfah, Sohra Andi Baso, Nini Lantara, Ibu Andi Sapada, Ibu Ida Yusuf Madjid Dan Andi Ummu kakak Zohra Andi Baso— bergiliran keliling Sulsel untuk memberdayakan para perempuan-perempuan Sulsel melalui Lembaga Pusat Studi Wanita Universitas Hasanuddin. Saat itu lembaga tersebut diketuai oleh Ibu Andi Cha ibu kandung Andi Ina.

Perempuan dan Gen Kepemimpinan

Dari berbagai referensi tentang kepemimpinan perempuan baik di politik maupun di dunia bisnis, beberapa rujukan dapat dijadikan pelajaran. Pertama, dari data fortune 500 di AS, CEO perempuan yang jumlahnya hanya sekitar 6,4% dan menempatkan lebih banyak perempuan di dewan direksinya, menunjukkan kinerja jauh lebih baik dari perusahaan yang tidak menempatkan perempuan di posisi direksi (Connley, 2021).

Kedua, laporan McKinsey untuk wilayah Inggris Raya menunjukkan bahwa perusahaan yang memberikan porsi yang fleksibel bagi perempuan untuk duduk di jajaran senior eksekutif, menunjukkan kinerja bisnis yang maksimal.

Studi ini menunjukkan bahwa saat perempuan tampil sebagai pemimpin, mereka menampilkan keahlian yang berbeda dengan kemampuan imajinasi yang tinggi.

Perempuan juga membuat struktur dan budaya organisasi berbeda yang menjadi pendorong utama pencarian solusi yang efektif. Selain itu, perempuan juga sangat kreatif melahirkan kesadaran baru, membuat terobosan konstruktif dengan memperhatikan hal-hal secara detail dan mampu melihat banyak hal yang tidak tampak di depan mata (McKinsey, 2021).

Ketiga, Pusat Penelitian Pew dan survey demografi menyatakan bahwa kemampuan kepemimpinan perempuan tidak kalah dari laki-laki. Kebanyakan orang Amerika percaya bahwa perempuan memiliki kelebihan dalam memimpin ketimbang laki-laki. Kelebihan dari perempuan itu terletak pada inteligensia, kemampuan berinovasi dan bahkan banyak yang percaya bahwa perempuan lebih kuat dari laki-laki dalam hal keteraturan dan kesabaran dalam memimpin. (Pew Research, 2015).

Berdasarkan temuan dan referensi tersebut di atas, wajarlah sekiranya beberapa politisi visioner di Sulsel memberi ruang yang istimewa bagi perempuan yang memiliki bakat kepemimpinan untuk tampil di panggung depan.

Dua Agenda

Proses penyadaran dan mendukung politik perempuan hingga kini masih terus dilakukan, baik di partai politik maupun di organisasi. Tak pelak tantangannya, terutama dari para politisi yang masih dibayang-bayangi oleh tendensi budaya patriarki yang keliru.

Lebih parah lagi perilakunya tidak terpuji dengan cara mengambil jalan pintas. Meminjam istilah Antropolog, Kontjaraningrat, mereka adalah orang-orang dengan mental penerabas. Maunya instan mendapat kekuasaan.

Dengan dalih mendapat dukungan ketua Partai tertentu, kemudian dengan percaya diri merebut jabatan dari ketua yang sah. Ia tidak menyadari, ketua partai tersebut pun yang ikut memasang taktiknya. Jadilah banyak kepentingan yang ikut cawe-cawe dalam merebut kedudukan Karang Taruna Sulsel ini.

Dalam konteks ini, maka upaya dukungan terhadap Andi Ina dapatlah dipahami ke dalam dua agenda besar. Pertama, perlawanan kita terhadap berbagai bentuk representasi politik di Sulsel yang berupaya menghambat atau merendahkan proyek besar mainstreming politik perempuan ini.

Kedua, sebagai respon terhadap berbagai kemungkinan buruk atas perilaku elit yang bermental menerabas, dan merusak demokrasi. Keduanya harus dilawan.

Bila ini dibiarkan, kita sama halnya setuju dengan pihak yang ingin politik perempuan khususnya dan demokrasi di Sulsel akan suram dan tidak berkembang.

Siapapun anda, bila punya kapasitas, silahkan bersaing di sistem yang terbuka dengan menjunjung prinsip-prinsip demokrasi. Hindarilah mentalitas menerabas, menghalalkan segala cara untuk meraih impian-impian ideal dengan cara-cara tidak terpuji.

Penulis : Lutfi


 Komentar

Berita Terbaru
News05 Desember 2021 23:03
Erupsi Gunung Semeru, Bupati Luwu Utara Kirim Doa untuk Warga Terdampak
Trotoar.id, Luwu Utara --- Bencana erupsi Gunung Semeru yang terjadi di Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur (Jatim), mengundang empati dan simpati ...
Pendidikan05 Desember 2021 22:56
Alumni Smansa Makassar Mendapat Apresiasi Dua Kali Mengembangkan Celltech Stem Cell , Deby Vinski : Semua Untuk Indonesia
Trotoar.id, Makassar -- Presiden Badan Akreditasi Anti-aging Dunia (WOCPM) dan Pemilik Celltech Stem Cell Centre Laboratory & Banking yaitu Prof d...
Daerah05 Desember 2021 22:49
SKB CPNS Luwu Utara Resmi Berakhir, Sepasang Suami-Istri Raih Nilai Tertinggi Kedua
Trotoar.id, Makassar --- Pelaksanaan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara ...
News05 Desember 2021 21:08
Ratusan Warga Antusias Hadiri Reses Syaharuddin Alrif
Trotoar.id, Makassar -- Wakil Ketua DPRD Sulsel, Syaharuddin Alrif menggelar reses masa sidang ketiga tahun 2021 di Panker, pelataran Monumen Ganggawa...