Makassar—Puluhan Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Nusa Tenggara Timur (AMP-NTT) di Kota Makassar menggelar aksi demonstrasi bertepatan pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia.
Mereka menggelar aksi di Jalan AP Pettarani Makassar. Tampak Mahasiswa dan Pemuda NTT itu membentuk lingkaran sehingga membuat kemacetan panjang.
Dari pantauan di lokasi, para pendemo ini membawa tuntutan “Lengserkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat”
Baca Juga :
Jenderal Lapangan, Jimi Saputra mengatakan bahwa sehubungan dengan adanya dugaan tindakan rasisme yang dilakukan oleh Gubernur NTT.
Gubernur NTT diduga melakukan perbuatan rasis dengan mengatakan “Monyet masyarakat Sumba,” kata Jimi saat diwawancarai trotoar.id, Jumat (10/12).
Pihak demonstran menegaskan bahwa ini bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis.
“Stop Rasis, hentikan intimidasi terhadap mahasiswa dan rakyat, dan stop nepotisme,” ungkapnya.
Sebelumnya, Viktor Bungtilu Laiskodat menanggapi perdebatan antara dirinya dan sejumlah warga di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi Umalulu, Sumba Timur, beberapa waktu lalu. Video perdebatan itu viral di media sosial.
Dalam video itu terlihat sejumlah warga pergi meninggalkan rombongan gubernur saat membahas lahan yang akan dibangun peternakan sapi.
Terekam perdebatan panas antara Viktor dengan tokoh masyarakat Desa Kabaru bernama Umbu Maramba Hawu.
Dalam video tersebut, Viktor menjelaskan lahan yang menjadi perdebatan adalah aset Pemprov NTT untuk membangun peternakan sapi. Politisi Nasdem itu meminta masyarakat tidak mempersoalkan status tanah tersebut.
Ia memperingatkan warga agar berhati-hati jika berhadapan dengan pemerintah. Bahkan terdengar Viktor mengancam akan memukul dan memenjarakan warga yang melawan.
Pernyataan Viktor itu kemudian ditanggapi tokoh adat, Umbu Maramba Hawu. Ia mempertanyakan pihak yang menyerahkan tanah tersebut ke Pemprov NTT.
Ia meminta bukti penyerahan tanah ulayat dan tak gentar dengan ancaman Viktor. Viktor mengaku tak ambil pusing dengan video yang viral tersebut.
Viktor menjelaskan, keberadaan lahan tersebut awalnya disampaikan almarhum mantan Bupati Sumba Timur Umbu Mehang Kunda yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI.
Menurut Viktor, Umbu Mehang Kunda merupakan satu-satunya orang NTT yang menduduki jabatan ketua komisi di DPR RI saat itu.
“Dia menjelaskan ke saya bahwa daerah ini bagus, peternakannya bagus, tapi tidak ada yang kerja, tidak ada yang bantu. Maka dari itu beliau minta saya untuk urus waktu itu, sehingga ketika menjadi gubernur saya teringat,” kata Viktor saat diwawancarai Kompas.com di rumah jabatan Gubernur NTT, Kamis (2/12/2021).
Viktor mengaku emosinya terpancing ketika ada warga yang terlibat perdebatan menyebut almarhum Umbu Mehang Kunda tak ada urusan dengan lahan tersebut.
Amarah Viktor tersulut karena pernyataan warga itu dinilai menghina senior yang sangat dihormatinya itu.
“Saya marah dia karena dia menghina senior, seorang Umbu, yang saya kenal hidupnya diabadikan untuk Pulau Sumba. Itulah cinta almarhum Umbu Mehang Kunda untuk Sumba, dan waktu itu dia minta saya untuk terlibat,” jelas Viktor.
“Saat saya menjadi gubernur dan teringat akan omongan beliau, itulah saya gembira dan saya mau bangun daerah itu,” ucap Viktor.
Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat tak bisa mengandalkan APBD saja.
Namun juga memanfaatkan seluruh aset agar perekonomian lebih baik, termasuk pengelolaan lahan untuk pembangunan peternakan sapi tersebut.
“Saya tidak tertarik dengan video atau segala macam itu. Persoalan kita adalah jika investasi kita di NTT tidak berjalan, maka untuk mengejar kesejahteraan tidak hanya mengandalkan APBD semata. Sehingga aset-aset yang ada harus dimanfaatkan,” ujar Viktor.
Viktor menyebutkan, tidak ada satu daerah pun yang berhasil dengan investasi rendah, apalagi dengan situasi Covid-19 seperti ini.



Komentar