Putusan MK

Putusan MK 135 Bikin Panas, Senior HMI & Presidium KAHMI Kumpul di Makassar Bahas Nasib Pemilu

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Minggu, 10 Agustus 2025 16:37

Putusan MK 135 Bikin Panas, Senior HMI & Presidium KAHMI Kumpul di Makassar Bahas Nasib Pemilu

MAKASSAR, Trotoar.id — Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 135 yang memisahkan jadwal Pemilu dan Pemilukada memicu gelombang reaksi.

Kali ini, sejumlah senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) berkumpul di Rumah Aspirasi Rudianto Lallo, Jumat (9/8/2025), dalam Dialog Kebangsaan untuk membedah implikasi putusan tersebut.

Forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi. Isu yang diangkat menyentuh jantung demokrasi: stabilitas politik, beban anggaran, hingga efektivitas pemerintahan pasca pemisahan jadwal Pemilu dan Pemilukada.

Tokoh-tokoh politik nasional hadir dalam forum ini, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Saan Mustofa, Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Presidium KAHMI Nasional Fauzi Amri, anggota DPR RI Taufik Basari, Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Syarif, anggota Komisi II Ujang, Ketua Komisi II Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, serta Rudianto Lallo yang juga Wakil Bupati Halmahera.

Baca Juga  PJ Gubernur Sebut 200 Ribu Lebih Debitur Memanfaatkan Dana KUR di Awal Tahun 2024

Rifqinizamy Karsayuda menegaskan, Fraksi Partai NasDem secara tegas menolak Putusan MK 135.

“Kami di NasDem tegas menolak Putusan 135 karena kami menilai putusan MK ini melanggar UU,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelanggaran konstitusi yang dimaksud adalah perpanjangan masa jabatan anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang tidak diatur dalam undang-undang.

“Masa jabatan anggota DPRD itu lima tahun, dipilih rakyat. Kalau diperpanjang tanpa dasar konstitusional, itu jelas pelanggaran,” tegasnya.

Kehadiran kader HMI dari berbagai cabang termasuk HMI Cabang Makassar, HMI Cabang Makassar Timur, dan Badan Koordinasi (Badko) HMI Sulsel — membuat diskusi semakin hangat.

Baca Juga  Ramdhan Pomanto Jadi Pembicara Utama di World Water Forum 10

Para pembicara mengupas potensi konsekuensi putusan ini, mulai dari risiko lonjakan beban anggaran, polarisasi politik yang berkepanjangan, hingga tarik-menarik kepentingan antara pusat dan daerah.

“Putusan ini tidak hanya soal teknis jadwal, tapi soal arah demokrasi kita. Kalau tidak diantisipasi, implikasinya bisa sangat luas,” ujar salah satu peserta diskusi.

Dialog ini menjadi sinyal bahwa perdebatan terkait Pemilu dan Pemilukada pasca Putusan MK 135 akan terus menghangat bukan hanya di Senayan, tetapi juga di akar rumput, terutama di kalangan aktivis dan alumni HMI yang dikenal kritis terhadap isu-isu kebangsaan.

Baca Juga  Wagub Harap Generasi Muda Terus Berkarya Isi Kemerdekaan
Penulis : Upiq

 Komentar

Berita Terbaru
Politik06 November 2026 16:39
IAS Minta Pengurus Golkar Sulsel Melek Media dan Digital, Jangan Gagap Zaman
JAKARTA, TROTOAR.ID — Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), meminta seluruh jajaran pengurus dan kader Golkar di...
Daerah06 November 2026 15:36
Langkah Sidrap Membangun Kesejahteraan Berbuah Anugerah Cita Negeri 2026
JAKARTA, TROTOAR.ID — Upaya Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas kesehatan, da...
Metro06 November 2026 15:18
TPA Tamangapa Disiapkan Jadi Hutan Kota, Munafri dan Kapolda Sulsel Tanam 100 Tabebuya
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Kota Makassar terus mempercepat upaya pemulihan lingkungan di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Ant...
Metro06 November 2026 15:11
Ketua TP PKK Sulsel Dorong Pembentukan Day Care dan Kelompok Peduli Lansia di Soppeng
SOPPENG, TROTOAR.ID — Perhatian terhadap kesejahteraan lanjut usia (lansia) tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan. Mereka juga membutuhkan r...