SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mulai mendorong terbentuknya budaya siaga bencana di lingkungan perkantoran, termasuk sektor perbankan yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap kebakaran dan keadaan darurat.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Damkar), Pemkab Sidrap menggelar sosialisasi dan simulasi penanganan bencana bagi karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Sidrap, Kamis (16/4/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Sidrap, Patriadi, menegaskan bahwa kesiapsiagaan di lingkungan kerja merupakan bagian penting dari sistem keamanan daerah secara menyeluruh.
Baca Juga :
“Perkantoran adalah ruang publik dengan aktivitas tinggi. Kalau tidak siap, risiko bisa berdampak luas,” ujarnya.
Menurutnya, edukasi ini menjadi langkah preventif untuk meminimalisasi potensi kerugian akibat bencana, khususnya kebakaran.
Dalam simulasi, peserta dibekali keterampilan dasar menghadapi situasi darurat. Tiga aspek utama menjadi fokus pelatihan, yakni:
- Penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) secara tepat
- Standar prosedur evakuasi saat kondisi darurat
- Mitigasi preventif melalui pemeriksaan instalasi listrik
Tim BPBD dan Damkar juga memberikan pendampingan langsung agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu melakukan tindakan cepat di lapangan.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Sidrap, Andi Hasanuddin, mengapresiasi langkah proaktif pihak BRI yang bersedia menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Kami berharap ini menjadi contoh bagi instansi lain. Mitigasi bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan simulasi pemadaman api menggunakan metode tradisional maupun modern, yang dipandu langsung oleh instruktur Damkar.
Pendekatan praktik ini dinilai penting untuk membangun refleks dan kesiapan nyata saat menghadapi kondisi darurat.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Sidrap ingin memperluas edukasi kebencanaan hingga ke sektor-sektor strategis, termasuk dunia usaha dan perbankan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar membangun daerah yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko bencana.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat dan lingkungan kerja yang siap, sigap, dan tidak panik saat menghadapi bencana,” pungkas Patriadi.



Komentar