MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Program SEHATI (Sejahtera, Harmonis, Aman, Tentram, dan Penuh Kasih) di SMA Negeri 17 Makassar, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 siswa perwakilan dari berbagai SMA dan sederajat, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga serta perlindungan anak di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan sosial yang dihadapi remaja.
Program SEHATI dikemas dalam bentuk talkshow edukatif yang membahas sejumlah isu krusial, mulai dari pentingnya keberanian untuk speak up terhadap kekerasan, pencegahan perkawinan anak beserta dampaknya terhadap kesehatan reproduksi, hingga pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
Baca Juga :
Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan nilai melalui kajian keagamaan yang menekankan pentingnya keutuhan keluarga serta upaya menghindari perilaku berisiko sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Kegiatan ini mengusung konsep fun learning yang interaktif, dilengkapi dengan sesi parenting yang melibatkan orang tua, tenaga pendidik, guru Bimbingan Konseling (BK), serta anggota Pokja I TP PKK.
Melalui pendekatan tersebut, Program SEHATI bertujuan meningkatkan kesadaran bersama dalam mendeteksi secara dini perilaku berisiko pada anak, seperti pergaulan negatif, penyalahgunaan teknologi, hingga potensi gangguan kesehatan mental.
Pendekatan preventif berbasis edukasi sejak dini dinilai menjadi langkah strategis, dengan menempatkan keluarga dan sekolah sebagai aktor utama dalam pembinaan karakter anak.
Selain dilaksanakan secara tatap muka, kegiatan ini juga diikuti secara virtual oleh SMA, SMP, dan SLB se-Sulawesi Selatan, termasuk Pokja I TP PKK kabupaten/kota. Model pembelajaran hybrid tersebut dinilai efektif dalam memperluas jangkauan edukasi hingga ke berbagai daerah.
Staf Ahli Pokja I TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Melanie Simon Jufrie, menegaskan bahwa keberhasilan Program SEHATI sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh pihak, khususnya orang tua dan tenaga pendidik.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbentuk pemahaman yang sama tentang pentingnya deteksi dini serta penanganan yang tepat terhadap perilaku berisiko pada anak,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan refleksi, yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus merumuskan langkah konkret dalam menerapkan nilai-nilai SEHATI di lingkungan masing-masing.
Ke depan, Program SEHATI direncanakan akan terus berlanjut di berbagai satuan pendidikan sebagai bagian dari gerakan bersama dalam membangun generasi Sulawesi Selatan yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing.
Program ini juga diharapkan menjadi model edukasi preventif berbasis kolaborasi antara keluarga dan sekolah yang dapat direplikasi secara berkelanjutan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. (*)




Komentar