MAKASSAR, Trotoar.id — Semangat Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada upacara dan seremoni tahunan.
Di tengah persoalan perang kelompok yang masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kota Makassar, persatuan justru harus dibuktikan melalui tindakan nyata: menghentikan kekerasan, menjaga persaudaraan, dan membangun masa depan.
Pesan itu disampaikan Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Andi Makmur Burhanuddin, yang mengajak generasi muda menjadikan peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk mengakhiri konflik antarkelompok.
Menurutnya, semangat yang diwariskan para pemuda pada 28 Oktober 1928 harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak muda tidak cukup hanya mengenang sejarah perjuangan pendahulu, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menjaga keamanan lingkungan dan menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Andi Makmur menilai, generasi muda Makassar memiliki energi, keberanian, dan solidaritas yang besar. Namun, potensi tersebut akan kehilangan makna jika justru digunakan untuk mempertahankan permusuhan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Momentum Sumpah Pemuda ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kekuatan anak muda terletak pada kemampuan membangun persatuan. Kita tentu bangga melihat generasi muda yang memiliki solidaritas tinggi dan keberanian dalam memperjuangkan sesuatu. Tetapi, keberanian itu harus diarahkan ke hal-hal positif, seperti berkarya, berprestasi, membantu sesama, dan memberikan kontribusi bagi lingkungannya,” ujar Andi Makmur.
Bagi Andi Makmur, perang kelompok bukan sekadar persoalan bentrokan antarpemuda. Konflik yang bermula dari persoalan kecil dapat berkembang menjadi pertikaian berkepanjangan ketika emosi, provokasi, dan gengsi kelompok lebih diutamakan daripada keselamatan bersama.
Dampaknya pun tidak berhenti pada mereka yang terlibat langsung. Keluarga ikut menanggung kecemasan, masyarakat kehilangan rasa aman, sementara aktivitas warga dapat terganggu akibat konflik yang terus berulang.
Ia mengingatkan bahwa tidak ada keuntungan yang sebanding dengan risiko kehilangan masa depan akibat pertikaian yang sebenarnya masih bisa diselesaikan melalui komunikasi.
“Jangan sampai anak-anak muda kita kehilangan masa depan hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Tidak ada kebanggaan dari sebuah pertikaian jika akhirnya menimbulkan korban, merugikan keluarga, atau membuat seseorang harus berhadapan dengan persoalan hukum. Kita ingin anak muda Makassar dikenal karena prestasi dan karyanya, bukan karena konflik yang terus berulang,” tegasnya.
Menurut legislator PKB tersebut, menghentikan perang kelompok tidak cukup dilakukan dengan imbauan setelah bentrokan terjadi.
Diperlukan langkah pencegahan yang melibatkan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan aparat keamanan.
Komunikasi antarkelompok perlu dibangun secara berkelanjutan agar perselisihan dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik terbuka.
“Kalau kita hanya bergerak setelah terjadi bentrokan, berarti kita selalu berada pada tahap penanganan, bukan pencegahan. Karena itu, perlu ada komunikasi yang baik di tingkat lingkungan, peran aktif tokoh masyarakat, serta keterlibatan anak muda sendiri untuk meredam persoalan sebelum membesar. Mereka harus diberi ruang untuk ikut menyelesaikan masalah, bukan hanya menjadi objek dari kebijakan yang dibuat,” jelasnya.
Andi Makmur juga mendorong Pemerintah Kota Makassar memperluas ruang aktivitas dan pengembangan potensi generasi muda.
Menurutnya, mengajak anak muda menjauhi kekerasan harus diikuti dengan penyediaan pilihan kegiatan yang positif dan mudah diakses.
Fasilitas olahraga, kegiatan seni dan budaya, pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, serta ruang kreativitas dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan energi sekaligus mengembangkan kemampuan.
Ia menilai, pembinaan kepemudaan tidak cukup hanya berorientasi pada ketertiban. Pemerintah juga perlu membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengakses pendidikan, memperoleh keterampilan, mengembangkan usaha, dan terlibat dalam pembangunan kota.
“Anak muda membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan membuktikan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Pemerintah perlu menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari olahraga, seni, pelatihan kerja, sampai pendampingan usaha. Jangan hanya meminta mereka menjauhi kegiatan negatif, tetapi kita juga harus memberikan pilihan dan kesempatan agar mereka bisa berkembang,” ungkapnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya pendekatan yang tidak semata-mata berorientasi pada penindakan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh dan membangun masa depan.
Sebab, di balik persoalan konflik, terdapat kebutuhan untuk didengar, dilibatkan, dan diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan secara positif.
Andi Makmur menegaskan, persatuan tidak berarti setiap kelompok harus kehilangan identitas atau kebanggaannya.
Anak muda tetap dapat menjaga solidaritas lingkungan masing-masing, tetapi kebanggaan itu seharusnya diwujudkan melalui prestasi dan kontribusi, bukan dengan memusuhi kelompok lain.
Ia juga mengingatkan bahwa keberanian sejati tidak selalu ditunjukkan dengan membalas tantangan. Kemampuan menahan emosi, menolak ajakan melakukan kekerasan, menghentikan provokasi, dan mengajak teman berdamai justru mencerminkan kedewasaan.
“Menurut saya, orang yang berani menghentikan pertikaian justru menunjukkan kedewasaan dan kepemimpinan. Tidak semua tantangan harus dijawab dengan perlawanan, dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan. Kadang-kadang, keberanian terbesar adalah ketika kita mampu mengendalikan emosi, mengajak teman untuk berdamai, dan mencegah sesuatu yang bisa merugikan banyak orang,” tuturnya.
Ia juga berpandangan bahwa anak muda yang pernah terlibat konflik harus tetap memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri melalui pembinaan dan pendampingan, tanpa menghilangkan tanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar upaya menjaga keamanan dapat berjalan beriringan dengan pemulihan hubungan sosial di tengah masyarakat.
Andi Makmur berharap peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan Makassar yang aman, harmonis, dan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan persoalan perang kelompok menjadi beban yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurutnya, masa depan kota membutuhkan generasi muda yang berani mengambil tanggung jawab, mampu menjaga persaudaraan, dan bersedia mengarahkan solidaritas kelompok untuk kegiatan produktif.
“Makassar membutuhkan anak muda yang berani mengambil tanggung jawab, bukan sekadar mempertahankan gengsi kelompok. Kita ingin melihat mereka berlomba menciptakan karya, mengembangkan usaha, meraih prestasi, dan membantu masyarakat. Kalau energi, solidaritas, dan keberanian itu diarahkan untuk hal-hal yang produktif, saya yakin anak muda bisa menjadi kekuatan besar dalam pembangunan kota ini,” pungkasnya.
Ia menegaskan, semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam peringatan tahunan. Persatuan harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik, meskipun masyarakat memiliki latar belakang dan identitas yang berbeda.
“Pada akhirnya, masa depan Makassar juga berada di tangan anak-anak muda kita. Mari kita beri mereka kesempatan, dengarkan aspirasi mereka, dan libatkan dalam pembangunan. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Saatnya kita membuktikan bahwa generasi muda Makassar mampu menjaga persaudaraan, menghentikan kekerasan, dan membawa kota ini menuju masa depan yang lebih baik,” tutupnya.
Bagi Andi Makmur, tantangan terbesar generasi muda Makassar bukanlah membuktikan siapa kelompok yang paling kuat, melainkan menunjukkan bahwa mereka mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Sebab, keberanian yang sesungguhnya bukan terletak pada kemampuan memulai pertikaian, tetapi pada kesanggupan menghentikannya demi masa depan bersama.




Komentar