Makassar, Trotoar.id – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat (GERAK) Makassar melangsungkan aksi demonstrasi di dua titik bersamaan, yakni di Jalan AP Pettarani tepatnya di depan Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan di Jalan Urip Sumoharjo, depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Kedua arus utama yang merupakan jalan nasional itu diblokir oleh mahasiswa.

Terpantau di AP Pettarani, tak ada satupun kendaraan yang berhasil lewat. Bahkan para pengendara memilih memutar balik mencari alternatif lain. Sementara di Urip Sumoharjo, mahasiswa hanya menutup satu arus hingga pukul, 19.30 Wita, malam.
Humas Aliansi GERAK Makassar, Anwar mengatakan bahwa turunnya mahasiswa di jalan-jalan raya hari ini adalah satu tanda darurat sosial yang hadir dari lapisan paling bawah.
Baca Juga :
“Kami rakyat Indonesia khususnya di tanah Sulawesi Selatan Makassar, menolak mentah-mentah pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law. Atas nama rakyat, masyarakat adat, buruh, kaum miskin kota, petani, perempuan, kelompok marjinal, telah terpinggirkan sejak dahulu, apalagi dengan lahirnya UU Cilaka ini bararti negara sengaja ingin membunuh rakyat. Hanya ada satu teriakan, Ganyang kekuasaan zolim!,” tegas dia dalam orasinya.
Dia menambahkan bahwa RUU Omnibus Law atau OBL adalah agenda rezim sejak awal Jokowi-Amin terpilih sebagai presiden.
“Artinya ini karpet merah bagi korporat berdasi, bagi investasi oligarki nasional maupun internasional, yang tak lain adalah lahir dari fraksi-fraksi pendukung rezim yang ada saat ini,” kata Anwar.
Selain itu, salah satu orator, Tuty Kastury yang ditemui di Jl AP Pettarani menuturkan, serendah-rendahnya iman adalah persatuan yang kokoh. Sebab menurutnya, kontradiksi pokok semakin jelas, wajah rezim yang anti rakyat semakin terlihat dan tak ada pilihan lain selain perlawanan.

“Mosi tidak percaya itu sampai kapan, dan apa alternatif yang mesti rakyat dorong sama-sama. Sejauhmana kita mempersiapkan gagasan untuk mewujudkan dewan rakyat itu sendiri sebagai jalan sungguhan dari ketidak-percayaan rakyat terhadap negara,” ungkap Dewan Federasi Mahasiswa Kerakyatan (FMK) itu.
Beragam ekspresi mahasiswa ditumpahkan di jalanan malam ini, mulai dari main bola, berpuisi hingga menyanyikan ‘Darah Juang’ hingga ‘Indonesia Raya’.
“Hal itu sebagai nilai tawar bagi rakyat untuk melumpuhkan perputaran ekonomi kapitalisme,” pungkasnya.
Sebab, hal itu dianggapnya sebagai bentuk protes sekaligus kegalauan anak muda terhadap pimpinan negara. Bahkan, Tuty Kastury menyerukan ke nasional agar membangun gerakan yang makin besar dan menyatu dalam satu platfom politik kerakyatan.
“Intinya gerakan ini, ayo dibangun semakin besar lagi, satu kekuatan, saatnya rakyat berdaulat atas suaranya sendiri, menentukan garis politiknya hingga haluan ekonominya itu sendiri. Sebab negara telah menunggangi pandemi Covid-19 dengan meloloskan Omnibus Law, maka rakyat harus menungganginya pula dengan menumbangkan rezim yang zolim ini,” kuncinya, (Al/hms)



Komentar