JAKARTA, Trotoar.id — Politikus Partai Gerindra, Kamrussamad, menilai pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait penggunaan dolar AS oleh masyarakat desa sebagai pesan yang tepat di tengah penguatan mata uang global tersebut.
Menurut Kamrussamad, pernyataan Prabowo yang menyebut “rakyat desa tidak memakai dolar” mencerminkan keyakinan bahwa gejolak nilai tukar tidak berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat akar rumput.
“Presiden ingin menegaskan bahwa penguatan dolar AS tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian rakyat Indonesia karena fundamental ekonomi kita kuat,” ujarnya.
Baca Juga :
Ia menjelaskan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir nilai tukar rupiah memang mengalami pelemahan dari sekitar Rp13.300 per dolar AS pada 2016 menjadi sekitar Rp17.500 pada 2026.
Namun, pelemahan tersebut dinilai masih dalam batas wajar dengan rata-rata sekitar 2,3 persen per tahun.
Kamrussamad juga membandingkan kondisi Indonesia dengan negara lain seperti Argentina dan Iran yang mengalami pelemahan mata uang jauh lebih tajam.
Peso Argentina tercatat melemah hingga hampir 99 persen, sementara rial Iran juga mengalami penurunan drastis lebih dari 97 persen.
Meski demikian, kedua negara tersebut tetap bertahan karena memiliki kemandirian di sektor pangan dan energi.
Menurutnya, hal tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kekuatan ekonomi tidak semata ditentukan oleh nilai tukar mata uang.
Kamrussamad memaparkan sejumlah strategi pemerintahan Prabowo dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, salah satunya melalui penguatan neraca dagang.
Ia menyebut, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, dengan capaian sekitar USD 41 miliar atau setara Rp700 triliun pada 2025.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan daya saing ekspor melalui berbagai perjanjian dagang internasional dengan sejumlah kawasan, termasuk Uni Eropa dan negara-negara lainnya.
“Dengan ekspor yang kompetitif, permintaan terhadap rupiah akan meningkat karena transaksi perdagangan dilakukan menggunakan mata uang domestik,” jelasnya.
Di sektor riil, pemerintah disebut telah mempercepat program swasembada pangan dan energi.
Indonesia diklaim telah mencapai swasembada untuk sejumlah komoditas seperti beras, jagung, gula konsumsi, cabai, hingga produk peternakan.
Sementara di sektor energi, pemerintah mendorong kemandirian melalui program biodiesel, pengembangan energi terbarukan, serta peningkatan kapasitas kilang dan eksplorasi sumber daya baru.
Kamrussamad menegaskan, kombinasi antara kekuatan sektor riil dan stabilitas sektor keuangan menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.




Komentar