MAKASSAR, TROTOAR.ID — Kualitas pembangunan manusia di Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulsel pada 2026 mencapai 76,66, meningkat 0,74 poin atau tumbuh 0,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 75,92.
Capaian tersebut mempertahankan posisi Sulawesi Selatan dalam kategori pembangunan manusia tinggi, sekaligus memperlihatkan adanya perbaikan pada tiga dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
Berdasarkan data BPS Provinsi Sulawesi Selatan yang dirilis 5 November 2026, peningkatan IPM tidak hanya terjadi pada level provinsi. Seluruh 24 kabupaten/kota di Sulsel juga mencatat kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Bone menjadi daerah dengan pertumbuhan IPM tertinggi, yakni mencapai 1,35 persen. Disusul Tana Toraja, Toraja Utara, dan Soppeng yang masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 1,32 persen.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Ariyanto, mengatakan peningkatan IPM 2026 ditopang oleh perbaikan seluruh indikator pembentuknya.
“Peningkatan IPM Sulawesi Selatan tahun 2026 didukung oleh kemajuan pada semua dimensi penyusunnya. Jika melihat perkembangan selama lima tahun terakhir, seluruh indikator pembentuk IPM menunjukkan peningkatan yang konsisten,” ujar Ariyanto.
Pada dimensi kesehatan, umur harapan hidup saat lahir penduduk Sulawesi Selatan mencapai 74,37 tahun pada 2026. Angka tersebut meningkat 0,22 tahun dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Perbaikan juga terlihat pada sektor pendidikan. Harapan lama sekolah penduduk usia tujuh tahun meningkat dari 13,56 tahun pada 2025 menjadi 13,57 tahun pada 2026.
Sementara itu, rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas mengalami kenaikan lebih besar, yakni 0,19 tahun, dari 9,00 tahun menjadi 9,19 tahun.
Pada dimensi standar hidup layak, rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan mencapai Rp13,29 juta. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp515 ribu atau 4,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan pada ketiga dimensi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan manusia di Sulawesi Selatan tidak hanya mengalami perbaikan dari sisi kesehatan, tetapi juga pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Dalam kurun waktu 2022–2026, IPM Sulawesi Selatan tercatat tumbuh rata-rata 0,88 persen setiap tahun. Tren tersebut menunjukkan peningkatan yang berlangsung konsisten dalam lima tahun terakhir.
Dari sisi kewilayahan, BPS mencatat sebanyak 21 kabupaten di Sulawesi Selatan telah berada dalam kategori pembangunan manusia tinggi. Sementara tiga daerah berstatus kota, yakni Makassar, Parepare, dan Palopo, telah masuk kategori pembangunan manusia sangat tinggi.
Ariyanto menjelaskan, secara umum perkembangan pembangunan manusia di Sulawesi Selatan menunjukkan kemajuan yang cukup merata dari sisi pertumbuhan, meskipun capaian masing-masing daerah masih berbeda.
“Secara umum, sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan telah berada pada kategori pembangunan manusia tinggi dengan nilai IPM di atas 70. Sebanyak 21 kabupaten berada pada kategori tinggi, sedangkan tiga kota telah mencapai kategori sangat tinggi,” katanya.
Meski seluruh kabupaten/kota mencatat peningkatan, perbedaan capaian IPM antardaerah masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapat perhatian. Sebab, pertumbuhan yang positif belum otomatis menghilangkan kesenjangan kualitas hidup masyarakat di setiap wilayah.
Karena itu, peningkatan kualitas layanan kesehatan, pemerataan akses pendidikan, serta penguatan daya beli masyarakat tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan manusia di Sulawesi Selatan.
Capaian IPM 76,66 pada 2026 menjadi gambaran perkembangan kualitas hidup masyarakat Sulsel. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan tersebut dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan capaian pembangunan manusia yang masih tertinggal.



Komentar