PINRANG, Trotoar.id — Regenerasi kepemimpinan Partai Golkar Kabupaten Pinrang resmi memasuki babak baru.
Hastang Mattanete ditetapkan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Pinrang periode 2026–2031 melalui Musyawarah Daerah (Musda) XI yang berlangsung di Lakera Bung, Kecamatan Alitta, Kabupaten Pinrang, Senin (2/11/2026).
Hastang terpilih secara aklamasi setelah mengantongi dukungan penuh dari 12 Pimpinan Kecamatan (PK) dan organisasi Hasta Karya Partai Golkar.
Dukungan tanpa kompetisi tersebut mengantarkan Hastang sebagai calon tunggal sekaligus menandai berakhirnya proses pergantian kepemimpinan Golkar di tingkat Kabupaten Pinrang.
Namun, terpilihnya Hastang bukan sekadar pergantian figur di pucuk pimpinan partai. Ada pekerjaan politik besar yang menanti, terutama menjaga soliditas kader, memperluas basis dukungan, serta meningkatkan perolehan kursi legislatif pada Pemilu 2029.
Usai ditetapkan sebagai ketua terpilih, Hastang langsung menegaskan komitmennya untuk membawa Golkar Pinrang memasuki fase konsolidasi organisasi secara lebih luas.
Ia mengajak seluruh kader memaksimalkan potensi partai, memperkuat struktur hingga tingkat kecamatan, desa dan kelurahan, serta menghidupkan kembali proses pengaderan sebagai bagian dari strategi memperluas kekuatan organisasi.
Menurut Hastang, perekrutan kader muda menjadi salah satu perhatian penting dalam menyiapkan regenerasi sekaligus memperkuat basis partai menghadapi agenda politik mendatang.
“Kami akan memaksimalkan seluruh potensi yang ada untuk melakukan konsolidasi besar-besaran, baik di tingkat kecamatan maupun desa dan kelurahan. Pengaderan juga akan dimaksimalkan, termasuk perekrutan kader-kader muda, demi mencapai tujuan menambah kursi. Terakhir, kami memohon doa dan dukungan semua pihak,” ujarnya.
Target penambahan kursi tersebut sejalan dengan arahan Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), yang membuka langsung pelaksanaan Musda XI.
Di hadapan ribuan kader yang memadati arena Musda, IAS menegaskan bahwa forum tertinggi partai di tingkat kabupaten tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai agenda seremonial pergantian kepemimpinan.
Sebaliknya, Musda harus menjadi titik awal penguatan mesin politik dan konsolidasi organisasi hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
“Dari forum Musda XI inilah akan lahir gagasan strategis dan kepemimpinan visioner yang mampu menjawab tantangan zaman. Setelah Musda ini, saya minta ketua terpilih dapat merangkul seluruh elemen untuk bergerak bersama membesarkan Partai Golkar hingga ke pelosok Pinrang,” tegas IAS.
Mantan Wali Kota Makassar itu juga memberikan apresiasi khusus kepada H. Usman Marham yang dinilai berhasil mempersiapkan regenerasi kepemimpinan di tubuh Golkar Pinrang.
Bagi IAS, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari capaian selama menjabat, tetapi juga dari kemampuannya menyiapkan generasi penerus untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi.
IAS bahkan menitipkan nama Usman Marham sebagai bagian dari tim formatur untuk mengawal penyusunan komposisi kepengurusan baru agar terbentuk struktur organisasi yang solid dan efektif.
“Pak Usman menunjukkan kematangan berpolitik yang luar biasa. Kepemimpinannya berhasil menyiapkan regenerasi untuk melanjutkan estafet di DPD Golkar Pinrang demi merealisasikan target politik pada Pemilu 2029. Beliau membuktikan bahwa masa depan dan kejayaan partai berada di tangan generasi penerus,” ujar IAS.
Tidak hanya menekankan regenerasi, IAS juga secara terbuka memasang target peningkatan perolehan kursi legislatif bagi Golkar Pinrang.
Ia meminta kepengurusan baru menjadikan konsolidasi sebagai agenda prioritas, bukan hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga menjangkau seluruh kecamatan, desa, kelurahan hingga dusun.
“Target kita terukur dan jelas: menambah kursi legislatif di DPRD Pinrang. Konsolidasi organisasi tidak boleh berhenti di tingkat kabupaten, melainkan harus masif berlanjut ke tingkat kecamatan, desa, kelurahan, hingga tingkat dusun,” tegasnya.
Sementara itu, H. Usman Marham yang kini mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) IX Golkar Sulsel berharap kepemimpinan Hastang mampu melanjutkan capaian organisasi yang telah dibangun selama periode kepemimpinannya.
Usman mengungkapkan, perolehan kursi Golkar Pinrang pada Pemilu sebelumnya mengalami peningkatan hingga 80 persen. Selain capaian elektoral, pembenahan infrastruktur dan fasilitas kantor partai juga telah dilakukan untuk memperkuat aktivitas organisasi.
“Perolehan kursi pada Pemilu lalu sudah melonjak hingga 80 persen, dan infrastruktur kantor Golkar pun telah kita benahi. Tugas generasi penerus selanjutnya adalah melanjutkan cita-cita mewujudkan kejayaan Partai Golkar di Kabupaten Pinrang,” ungkapnya.
Meski demikian, Usman mengingatkan bahwa target politik yang besar harus ditopang fondasi organisasi yang kuat. Soliditas internal, komunikasi antarkader, serta konsolidasi berkelanjutan menjadi pekerjaan awal yang harus diprioritaskan kepengurusan baru.
“Pengurus baru harus menyolidkan internal terlebih dahulu. Tanpa soliditas, sulit bagi kita mewujudkan target partai. Konsolidasi dan komunikasi masif harus berjalan simultan. Namun, saya sangat optimistis Golkar Pinrang akan melahirkan figur pemimpin yang kapabel dalam mengeksekusi target-target strategis partai,” jelasnya.
Pelaksanaan Musda XI Golkar Pinrang juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Pinrang. Kepala Kesbangpol Pinrang, Arif Mandoko, yang hadir mewakili Bupati Pinrang, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Partai Golkar dalam mendukung pembangunan daerah.
Ia menyampaikan pemerintah daerah berharap sinergi dengan seluruh kekuatan politik tetap terjaga untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dan mempercepat pembangunan di Kabupaten Pinrang.
Pembukaan Musda XI turut dihadiri Sekretaris DPD I Golkar Sulsel Rahman Pina bersama jajaran pengurus provinsi, unsur Forkopimda, pimpinan partai politik, komisioner KPU dan Bawaslu Kabupaten Pinrang, serta anggota Fraksi Golkar DPRD Pinrang.
Dengan terpilihnya Hastang Mattanete, Golkar Pinrang kini memasuki periode kepemimpinan baru. Dukungan aklamasi yang diperolehnya menjadi awal bagi penataan organisasi dan konsolidasi kader.
Namun, tantangan sesungguhnya berada pada kemampuan kepengurusan baru menerjemahkan dukungan tersebut menjadi kerja organisasi yang terukur. Sebab, target menambah kursi DPRD pada Pemilu 2029 tidak cukup hanya mengandalkan soliditas di ruang Musda, tetapi membutuhkan penguatan kader, perluasan basis masyarakat, dan konsolidasi yang konsisten hingga tingkat paling bawah.



Komentar