Independensi Dan Kebebasan Pers Hanya Semboyan

ANTI CIBOL
ANTI CIBOL

Minggu, 16 Desember 2018 09:26

TROTOAR.ID, MAKASSAR -- Kebebasan Pers pada praktiknya memang lebih sekadar jargon atau semboyan semata. Banyak pihak, terutama penguasa, terus berusaha mengendalikan pemberitaan pers sesuai dengan kepentingan kekuasaan dan bisnis. 
TROTOAR.ID, MAKASSAR -- Kebebasan Pers pada praktiknya memang lebih sekadar jargon atau semboyan semata. Banyak pihak, terutama penguasa, terus berusaha mengendalikan pemberitaan pers sesuai dengan kepentingan kekuasaan dan bisnis. 
TROTOAR.ID, MAKASSAR — Kebebasan Pers pada praktiknya memang lebih sekadar jargon atau semboyan semata. Banyak pihak, terutama penguasa, terus berusaha mengendalikan pemberitaan pers sesuai dengan kepentingan kekuasaan dan bisnis.

Hal ini disampaikan Pakar Pendidikan Politik UNM, Dr Yasdin Yasir SPd MPd dalam diskusi akhir tahun Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel dengan tema independensi jurnalis di tahun politik, di warkop Press Corner, Jalan Pengayoman Makassar, Sabtu (15/12/2018).

Diskusi yang pandu dewan pengarah Pengda PJI Sulsel, Suriani Mappong juga menghadirkan Komisioner KPU Sulsel, Muh Asram Jaya dan Ketua Prodi Komunikasi UMI, Dr Hadawiah sebagai pembicara.

“Independensi media itu, bekerja dengan kebebasan atau bekerja dengan upah gratis gratis. Pada tahun 80-an, media dihadapkan pada pilihan, pertama merdeka secara etik tapi tidak secara pembiayaan, diatur oleh pemodalnya, jurnalisnya disebar di pasar,” ujarnya.

Kata dia, terpasungnya kebebasan pers atau independensi jurnalis terjadi di banyak negara. Bahkan Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara liberal, pers atau media juga dikendalikan.

Menurut Yasdin, substansi independensi jurnalis berkaitan dengan tarnsparansi informasi, belum sepenuhnya dapat dilaksanakan media massa. Sebab, budaya ketertutupan masih mendominasi karakter para elit publik yang seharusnya mengedepankan keterbukaan dalam memberikan informasi kepada media massa.

“Perusahaan media atau pers merupakan penyedia informasi yang bekerja sesuai kode etik. Jurnalis merupakan pilar ke 4 dengan funsgi penyalur informasi dalam sebuah negara,” ujarnya.

Posisi media memang strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, membangun karakter media yang independen dan bebas dari kepentingan politik maupun bisnis, bukan pekerjaan yang mudah.

Sebab, membangun media yang independen, tambah Yasdin, diperlukan transparansi informasi dari kekuasaan negara. Hubungan integrative untuk mengedepankan perlunya transparansi informasi memerlukan proses panjang meskipun sejumlah regulasi pers dan media sudah ditetapkan dan mengamantakan agar media massa dan pemerintah menjalankan.

“Media dalam pemberitaannya tidak harus netral. Namun hal terpenting dalam pemberitaan media tidak untuk memfitnah,” ujarnya.

Kepemilikan media memiliki dampak yang signifikan, khususnya saat pemilu dan pilkada berlangsung. Hal ini bisa nyata terlihat saat media dimiliki pemimpin partai. Pada akhirnya kredibilitas mereka masih yang utama dan masyarakat yang kritis akan bisa mengetahuinya.

Namun, tambah Yasdin, kemunculan banyak media saat ini, pada akhirnya bisa membantu warga mendapat informasi yang akurat.

“Pluralisme media menjadi jawaban terhadap media yang partisan. Jika melihat satu media tidak berani menulis atau menyiarkan suatu hal karena punya kaitan dengan pemiliknya, maka kita bisa tinggalkan media itu dalam isu itu,” tambahnya.

“Anda tinggal pindah ke media yang lain. Jadi saya percaya betul bahwa ketidaknetralan media bisa dijawab dengan pluralisme media,” terangnya(*)

 Komentar

Berita Terbaru
Metro18 April 2026 15:19
Nama Aliyah Mustika Ilham Dicatut, Modus Penipuan Berkedok Sumbangan Masjid Marak
MAKASSAR, Trotoar.id – Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penipuan baru yang mencatut na...
Metro18 April 2026 13:17
30 Tahun Kuasai Fasum, 40 PKL “Cat Kuning” di Jalan Tinumbu Bongkar Mandiri Tanpa Konflik
MAKASSAR, Trotoar.id – Setelah puluhan tahun menempati fasilitas umum, sekitar 40 pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Ujung Tinumbu, Kecamatan Bontoal...
Politik18 April 2026 11:32
Musda Golkar Haed To Haed, APPI Kumpul 21 DPD II
MAKASSAR, Trotoar.id – Peta kekuatan jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan kian mengerucut. Dukungan terhadap Munafri Arif...
Hukum18 April 2026 10:56
Andi Ina Bantah Terlibat Dalam Kasus Bibit Nanas
MAKASSAR, Trotoar.id – Mantan Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Andi Ina Kartika Sari, dengan tegas membantah keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi ...