MAKASSAR, TROTOAR.ID — Upaya melindungi perempuan dan anak dari segala bentuk kekerasan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi masyarakat, organisasi nonpemerintah, komunitas, hingga generasi muda menjadi kunci menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi kelompok rentan.
Semangat tersebut mewarnai Festival Perempuan dan Anak Makassar 2026 yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard, Minggu (8/11/2026).
Mengambil momentum HUT ke-419 Kota Makassar, kegiatan ini melibatkan 25 organisasi nonpemerintah (NGO), shelter warga, Forum Anak, Forum Anak Disabilitas, serta jajaran DP3A Kota Makassar untuk mengampanyekan penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Festival diawali dengan sambutan Asisten I Sekretariat Daerah Kota Makassar, Irwan Bangsawan. Ia menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak merupakan bagian penting dari pembangunan kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Menurut Irwan, perempuan harus memperoleh ruang dan kesempatan yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Begitu pula penyandang disabilitas dan kelompok berkebutuhan khusus yang berhak mendapatkan kesempatan serta pelayanan yang setara.
“Makassar ini untuk semua, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dan mereka yang berkebutuhan khusus. Kita ingin membangun kota yang inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan pembangunan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Peran aktif masyarakat, termasuk generasi muda, diperlukan untuk menjaga keamanan dan menciptakan lingkungan yang melindungi seluruh warga.
Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui penandatanganan kesepakatan bersama oleh perwakilan 25 NGO yang berpartisipasi dalam festival. Kesepakatan itu menjadi bentuk dukungan lintas organisasi untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Makassar.
Setelah penandatanganan, Irwan Bangsawan melepas ratusan peserta long march kampanye Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Peserta menyusuri kawasan CFD Boulevard sambil membawa papan kampanye dan membagikan brosur edukasi kepada masyarakat.
Kepala DP3A Kota Makassar, dr. Ita Anwar, mengatakan kampanye tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan, langkah pencegahan, serta mekanisme pelaporan apabila menemukan atau mengalami kasus kekerasan.
Menurut Ita, tingginya keterlibatan berbagai organisasi menunjukkan bahwa kepedulian terhadap perlindungan perempuan dan anak telah menjadi perhatian bersama.
“Alhamdulillah kegiatan ini melibatkan seluruh shelter warga di kelurahan se-Kota Makassar, 25 organisasi nonpemerintah (NGO), Forum Anak, Forum Anak Disabilitas, serta jajaran DP3A Kota Makassar,” ungkapnya.
Ia mengaku mengapresiasi partisipasi 25 NGO yang hadir atas inisiatif dan kepedulian bersama, tanpa dukungan anggaran khusus dari DP3A.
Selain kampanye melalui papan edukasi dan pembagian brosur, panitia juga membagikan bunga kepada masyarakat sebagai simbol kepedulian sekaligus pesan bahwa pemerintah hadir memberikan perlindungan dan pendampingan bagi korban kekerasan.
Festival tersebut juga dirangkaikan dengan kick off kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP). Momentum ini diharapkan memperkuat komitmen seluruh pihak untuk tidak hanya menyuarakan penolakan terhadap kekerasan, tetapi juga terlibat dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
DP3A Makassar turut menghadirkan layanan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Layanan tersebut mencakup konsultasi, konseling, serta pendampingan psikologis bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Kami menyiapkan tempat pelayanan UPTD PPA. Jika ada masyarakat yang mengalami atau mengetahui kasus kekerasan, silakan datang. Kami juga menyediakan ruang konseling dan psikolog untuk membantu penanganan kasus. Semua layanan ini gratis bagi masyarakat Kota Makassar,” tegas Ita.
Pada kesempatan itu, Ita juga membacakan deklarasi bersama perwakilan 25 NGO dan seluruh unsur yang terlibat. Deklarasi tersebut menjadi penegasan komitmen bersama dalam mencegah kekerasan, memperkuat perlindungan perempuan dan anak, serta membangun lingkungan yang aman bagi seluruh masyarakat.
Namun, DP3A berharap komitmen tersebut tidak berhenti pada penandatanganan deklarasi dan kegiatan kampanye. Kolaborasi lintas organisasi akan dilanjutkan melalui pembentukan grup komunikasi untuk mempercepat pertukaran informasi, koordinasi, dan tindak lanjut terhadap laporan kasus kekerasan.
“Harapan kami, seluruh NGO yang sudah hadir dapat terus bersatu. Setelah berkomitmen, kita akan membuat grup komunikasi agar setiap kasus bisa kita tangani bersama. Kami ingin kegiatan ini berkesinambungan dan tidak berhenti sampai di sini, justru semakin semangat,” tutupnya.
Melalui Festival Perempuan dan Anak 2026, DP3A Makassar ingin memastikan bahwa perlindungan kelompok rentan menjadi gerakan bersama. Sebab, keberhasilan menciptakan kota yang aman tidak hanya diukur dari program pemerintah, tetapi juga dari keberanian masyarakat mencegah kekerasan, melaporkan kasus, dan memberikan dukungan kepada korban.



Komentar